Sabtu, 05 Maret 2011

COMBUSTIO (LUKA BAKAR)

COMBUSTIO (LUKA BAKAR)


Pengertian
Combustio (luka bakar) adalah kerusakan jaringan tubuh terutama kulit, akibat trauma panas, bahan kimia, elektrik dan radiasi.

Etiologi
Bahan Kimia :
 Asam kuat
 Basa kuat
 Inhalasi asap
Elektrik :
 Voltage tinggi
 Petir
Panas/termal :
 Basah : air panas, minyak panas, uap air panas (steam)
 Kering : api cahaya matahari
Radiasi :
 X-ray
 Sinar matahari

Derajat Luka Bakar
Luka bakar dapat dibagi dalam tiga derajat, yaitu :



Derajat I :
Yang terkena hanya lapisan epidermis saja, kulit tampak kering, tidak terdapat bulla, kemerahan, terdapat nyeri dan sedikit edema, ujung saraf tidak terganggu.
Luka bakar derajat I ini akan sembuh dalam waktu 5 – 10 hari, biasanya ditemukan pada orang-orang yang terlalu lama di dalam terik matahari.

Derajat II :
Luka bakar mengenai epidermis dan dermis, terdapat bulla. Bila bulla pecah tampak hiperemi atau tampak agak pucat kalau jaringan dermik rusak. Terasa sakit karena ujung-ujung saraf yang tidak mati terangsang. Penyembuhan tergantung pada papila dermal yang tersisa. Bila superfisial saja yang terkena 10 – 14 hari luka bisa sembuh. Tetapi bila luka lebih dalam lagi, kira-kira 1 bulan baru bisa sembuh.

Derajat III :
Luka bakar mengenai seluruh epidermis dan dermis atau lapisan kulit yang ada di bawahnya, tidak terdapat bulla, epidermis yang ada bisa terkelupas akan nampak jaringan pucat, tidak terasa nyeri karena ujung-ujung saraf perasa telah rusak. Beberapa hari kemudian kulit mati tersebut akan mengering dan mulai mengelupas dari dasarnya pada hari ke 10 – 14 yang kemudian meninggalkan granulasi.

Cara Mengukur Luas Luka Bakar
Rumus “Role of nine”
Untuk menghitung luas luka bakar dinyatakan dengan prosentase dan menggunakan rumus role of nine yaitu pembagian yang menggunakan kelipatan sembilan, dengan perincian sebagai berikut :
Kepala dan leher : 9 %
Lengan dan tangan masing-masing : 9 %
Badan depan : 18 %
Badan belakang : 18 %
Paha, betis, dan kaki masing-masing : 18 %
Genitalia eksterna : 1 %
Berat ringannya Luka Bakar
Dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
Luka bakar berat
 Adalah luka bakar derajat II > 25 %
 Luka bakar derajat I > 10 %
 Luka bakar pada klien dengan usia kurang dari 27 tahun dan lebih dari 60 tahun, luka bakar mengenai daerah tangan, kaki dan perineum. Luka bakar dengan menghisap asap, luka bakar karena listrik dan luka bakar dengan komplikasi trauma lain/penyakit lain.

Luka bakar sedang
Adalah luka bakar tingkat II yang luasnya 15 – 25 % pada orang dewasa, 10 – 20 % pada anak-anak atau remaja atau luka bakar derajat III kurang dari 10 %.

Luka bakar ringan
Luka bakar tingkat II kurang dari 15 % pada orang dewasa atau luka bakar tingkat III kurang dari 2 %.

Patofisiologi
Pada luka bakar terjadi penurunan dari fungsi kulit dengan diikuti penurunan fisiologis seperti :
 Kehilangan pertahanan barier untuk melawan infeksi
 Kehilangan cairan tubuh
 Kehilangan kontrol temperatur
 Kerusakan kelenjar kulit dan glandula sebacea
 Penurunan sejumlah reseptor sensori

Kehebatan dari penurunan fisiologis di atas tergantung pada tingkat/luas luka bakar dan kedalaman kerusakan yang terjadi. Ada 3 fase yang terjadi pada kasus luka bakar :
 Fase hipovolemik segera
 Fase deuritik
 Fase rehabilitasi yang lama

Perubahan patofisiologi yang terjadi pada beberapa kasus luka bakar digambarkan sebagai berikut :



Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium :
Hb, Ht, Leokosit, trombosit, gula darah, elektrolit, ureum, creatini, protein, albumin, hapusan luka, urine lengkap, AGD bila diperlukan.

Radiologi : Foto thoraks.
ECG : Untuk melihat kelainan pada jantung
CVP : Untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka bakar > 30 % dewasa dan > 20 % pada anak-anak.

Penatalaksanaan
Untuk menghindari kematian dan kecacatan pada klien luka bakar diperlukan pertolongan yang cepat dan tepat. Penatalaksanaan klien dengan luka bakar di rumah sakit adalah :

1. Penaggulangan terhadap gangguan pernapasan, shock, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, mencegah infeksi, pemberian nutrisi, eksisi eskhar dan skin graft, rehabilitasi dan penanggulangan gangguan psikologis.
2. Mengatasi gangguan pernapasan
Mukosa saluran pernapasan akan edema bila seseorang menghirup udara panas atau gas beracun, yang terbentuk pada waktu peristiwa kebakaran sehingga seseorang sulit untuk bernapas karena terjadi edema pada saluran pernapasan.
3. Penanggulangan terhadap shock
Memberikan cairan intra venus yang sesuai dan hasil kolaborasi dengan tim medis, observasi keadaan umum, untuk mengetahui segala perubahan yang terjadi sehingga dengan cepat dapat memberikan bantuan yang sesuai.
4. Mengatasi gangguan keseimbangan cairan
Luka bakar menyebabkan kerusakan pada lapisan keratin dan lipid kulit yang berfungsi untuk mencegah penguapan air dari jaringan. Pada kondisi luka bakar, proteksi hilang sehingga sangat cepat, untuk mengatasi kehilangan cairan yang berlebihan dilakukan pemberian cairan intra vena. Protokol pemberian cairan pada luka bakar dengan menggunakan rumus Brooke yang sudah dimodifikasi adalah :
Jam I cairan diberikan RL : 2,5 – 4 cc/kg.BB/ % LB. ½ bagian diberikan dalam 8 jam pertama (terhitung mulai jam kecelakaan). Lalu ½ bagian lagi diberikan dalam 16 jam berikutnya.
Jam II cairan Dextrose 5 % dalam air : 24 x(25 + %LB) x BSA cc. Albumin sebanyak yang diperlukan (0,3 – 0,5 cc/kg.BB/%)
5. Mengatasi infeksi
Pada klien luka bakar diberi obat kekebalan terhadap tetanus yang diberikan pada awal penanganan, selain itu juga diberikan antibiotika sistemik. Di samping penanggulangan masalah kolaborasi, perawatan luka dan semua tindakan invasif harus dilakukan dengan menggunakan tehnik aseptik. Personal hygiene dan lingkungan yang bersih harus selalu dijaga.
6. Eksisi eskhar dan skin graft
Eksisi eskhar penting dilakukan karena eskhar merupakan media yang baik untuk berkembang biaknya bakteri. Kadang-kadang eskhar terjadi pada bagian tubuh yang melingkar sehingga dapat terjadi penekanan pada pembuluh darah dan saraf di bawahnya, yang mengakibatkan kematian jaringan bagian distal. Untuk luka bakar derajat II yang dalam, kadang-kadang sulit untuk sembuh secara spontan. Jadi untuk dapat cepat sembuh dan mengembalikan fungsi kulit harus dilakukan skin graft.
7. Pemberian nutrisi
Untuk mengatasi gangguan nutrisi akibat hipermetabolisme, makanan yang diberikan harus berkalori tinggi. Hal ini perlu agar BB klien tidak menurun secara menyolok selama masa perawatan di samping itu usaha untuk mempercepat penyembuhan.
8. Rehabilitasi
Rehabilitasi dilakukan pada klien luka bakar adalah untuk menghilangkan kecacatan terutama penanggulangan terhadap terjadinya kontraktur sehingga klien post luka bakar akan dapat melakukan aktifitas dan fungsinya seperti semula.
9. Penanggulangan terhadap gangguan psikologis.
Pada klien luka bakar sering terjadi gangguan kejiwaan berupa depresi yang akan mempersulit penyembuhan luka. Perawat sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dan paling lama berada di antara klien berperan sangat penting dalam penanganan masalah ini yaitu dengan melakukan komunikasi terapeutik sebelum ditangani oleh yang ahli psikologi/psikiater.

Pengkajian
1. Biodata
2. Riwayat penyakit sekarang, meliputi :
Tanda-tanda vital
 Tingkat kesadaran
 Riwayat kejadian
 Tempat/area kejadian (tulang terbuka/tertutup)
 Penyebab luka bakar
 Luas dan kedalaman
 Trauma penyerta luka bakar
 Mendapat pertolongan/pengobatan pertama kali oleh siapa, dimana, dan sudah mendapat pengobatan apa ?
3. Riwayat penyakit lalu :
 Adakah riwayat penyakit lain, seperti : DM, jantung, asma, ginjal, liver, dan lain-lain.
4. Data biologis :
 Pola tidur
 Pola eliminasi
 Pola pernapasan
 Pola makan/minum
5. Keadaan kulit :
 Sesudah sakit
 Luas permukaan kulit yang terkena luka bakar
 Kedalaman luka bakar
 Warna kulit yang terkena luka bakar
 Apakah terdapat bulla atau edema
 Turgor, kekenyalan, kelembaban mukosa.
6. Keadaan indera :
Penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, perabaan, rangsang sakit.
7. Data Psikologis :
 Perilaku nonverbal
 Perilaku verbal
 Temperamen
8. Data Sosial :
 Pola komunikasi
 Orang lain yang dapat membantu memberikan rasa nyaman
 Orang yang paling berharga bagi klien
 Keluarga yang perlu dihubungi bila dalam keadaan darurat
 Hubungan dengan tetangga dan masyarakat
 Masalah lingkungan yang dipikirkan
9. Data Spiritual :
 Keyakinan agama
 Ketaatan beribadah
 Keyakinan terhadap sakit
 Keyakinan terhadap penyembuhan

ASUHAN KEPERAWATAN

Berdasarkan data di atas, maka masalah yang dapat ditemukan pada luka bakar adalah sebagai berikut :

1. Tidak efektifnya pertukaran gas/oksigen sehubungan dengan kerusakan jalan napas.

Tujuan:
Patensi jalan nafas dapat dipertahankan

Intervensi:
- Perhatikan frekuensi pernafasan, kualitas dan kedalaman pernafasan.
- Lakukan tindakan perawatan pulmonal agresif; membalikkan, membatukkan, nafas dalam, inspirasi yang kuat menggunakan spirometri, dan penghisapan tracheal.
- Pertahankan posisi untuk menurunkan upaya pernafasan dan meningkatkan ekspansi dada yang optimal; berikan oksigen yang telah dilembabkan atau lakukan vntilasi mekanik.
- Pertahankan asepsis untuk mencegah kontaminasi saluran nafas dan infeksi yang meningkatkan kebutuhan metabolik.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka bakar.

Tujuan :
Balance cairan dapat dipertahankan

Intervensi:
 Kaji tanda-tanda vital dan haluaran urine, tekanan vena central, tekanan arteri pulmonal.
 Berikan cairan intra vena sesuai pesanan.
 Hitung balance cairan.
 Pantau kadar elektrolit serum, kenali perkembangan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit.


3. Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan dan saraf dan dampak emosional dari cedera.

Tujuan:
Nyeri dan ansietas minimal

Intervensi:

 Lakukan pengkajian pernafasan sebelum memberikan analgesic, gunakan rute intra vena untuk pembeian medikasi [ rute lain memberikan penyerapan yang tak dapat diperkirakan].
 Berikan sedative IV sesuai pesanan
 Berikan dukungan emosional dan penjelasan sederhana mengenai prosedur.
 Berikan obat-obatan antiansietas sesuai pesanan, jika pasien tetap dalam kecemasan tinggi.


4. Kurangnya nutrisi yang dibutuhkan berhubungan dengan hipermetabolisme dan kebutuhan penyembuhan luka.

Tujuan:
Nutrisi adequate dapat dipertahankan

Intervensi:

 Mulai masukan nutrisi dengan lambat jika busing usus telah kembali
 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk merencanakan diit yang dapat diterima oleh pasien.
 Lakukan pemasangan NGT jika pemenuhan kebutuhan kalori tidak terpenuhi dengan makan peroral.
 Timbang berat badan pasien setiap hari.

5. Potensial infeksi berhubungan dengan kehilangan barier kulit dan kerusakan respons immune.

Tujuan:
Tidak terjadi infeksi

Intervensi:

 Lindungi pasien dari sumber –sumber kontaminasi silang.
 Lakukan teknik aseptic untuk perawatan luka dan prosedur intra vena
 Berikan antibiotic sesuai pesanan.
 Pantau laboratorium Hb, Ht, leukosit.

DAFTAR PUSTAKA

Marilyn E. Doenges, Nursing Care Plans, Edisi 3, FA. Davis Company, Philadephia, 1993.
Luckmand Sorensen’s, Medical Surgical Nursing A Psychophisiologic Aprroach, Edisi 4 Sounders Company, 1993.
Barbara C. Long. RN.MSN, Essential of Medical Surgical Nursing, 1985.
Sudan D. Ruppert et all, Dolan’s Critical Care Nursing, Clinical Management, Edisi 2., FA. Davis Company, 1996.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar